Uncategorized

Harga Sebuah Integritas: Bayang-Bayang di Kafe Hitam-Putih

Dipublikasikan

pada

Hitam.

Restorasi News| Langit di atas Kabupaten Wajo malam itu seperti lautan tinta yang tumpah, pekat dan tanpa harapan. Hujan gerimis jatuh perlahan, membasahi jalanan di Jalan Sriwigading, Kecamatan Tempe. Lampu-lampu kota berkelap-kelip redup, menciptakan bayangan yang seolah menari di atas aspal basah.

Di sebuah sudut Kafe Hitam-Putih, seorang wanita duduk sendiri. Wajahnya tertunduk, jemarinya melingkari gelas berisi jus dingin, tetapi tak disentuh. Matanya kosong, menembus jendela yang berembun, seperti menatap sesuatu yang jauh… sesuatu yang hanya ada dalam pikirannya.

“Saya hanya ingin bekerja dengan jujur.”

Suara itu lirih, hampir seperti bisikan. Namun, bagi wartawan yang duduk di hadapannya, kalimat itu bagaikan letupan dalam kesunyian. Ia menatap wanita itu dengan penuh perhatian, membiarkan keheningan memberikan ruang bagi kata-kata yang ingin keluar.

Wanita itu menarik napas dalam, meneguk air putih sebelum melanjutkan.

“Dulu, saya pikir kejujuran adalah satu-satunya jalan. Saya percaya bahwa aturan harus ditegakkan, bahwa pelayanan publik harus bersih. Tapi ternyata, kejujuran bisa menjadi kutukan.”

Ia adalah seorang pegawai Disdukcapil yang dikenal tegas. Tak ada calo, tak ada perlakuan istimewa—semua warga harus melewati prosedur yang sama. Namun, justru ketegasannya itu yang membuatnya jatuh.

Bisik-bisik mulai beredar. Tuduhan perlahan merayap seperti bayangan gelap yang mengintai di lorong-lorong birokrasi. Lalu, tiba-tiba, namanya muncul dalam sebuah laporan. Bukan sebagai pegawai yang berintegritas, tetapi sebagai penghambat pelayanan.

“Saya kaget. Saya tidak pernah menghambat siapa pun. Saya hanya ingin semuanya berjalan sesuai aturan.”

Tapi di dunia yang penuh intrik ini, aturan bisa diputarbalikkan oleh mereka yang memiliki kuasa.

Tuduhan itu berkembang liar. Ia dituduh menampar seorang pegawai. Tak ada bukti, tak ada saksi, hanya tuduhan yang seakan sudah ditakdirkan untuk menjatuhkannya. Ia mencoba membela diri, tapi tak ada yang mau mendengar.

“Kalau atasanmu marah, biar dia memukulmu pun, kamu tidak boleh melawan,” ujar seorang staf Inspektorat dengan suara dingin.

AT tercekat. Dalam hatinya, ia bertanya—di mana keadilan itu?

Tapi ia tahu, ini bukan lagi soal benar atau salah. Ini adalah permainan kekuasaan.

Hingga akhirnya, surat itu datang.

Nonjob.

Tanpa kesempatan membela diri, tanpa bukti yang nyata, ia disingkirkan dari posisi yang telah ia jalani dengan penuh dedikasi. Seakan seluruh kerja kerasnya bertahun-tahun terhapus dalam sekejap.

Ia ingin marah, ingin berteriak. Tapi yang keluar hanyalah senyum pahit.

Lalu, ironi itu datang.

Beberapa tahun setelah ia kehilangan jabatannya, seorang pejabat di tempatnya bekerja ketahuan menjual dokumen negara. Dokumen yang seharusnya dijaga, diperjualbelikan dengan harga murah.

Dan hukumannya? Hanya penundaan kenaikan pangkat selama setahun.

AT menggeleng pelan, menatap langit malam yang kelam.

“Saya yang tak bersalah dihancurkan kariernya. Tapi dia, yang jelas-jelas menjual dokumen negara, hanya diberi hukuman ringan. Di mana letak keadilan itu?”

Suara wanita itu mulai bergetar, matanya yang semula menahan air mata kini mulai basah.

Di luar, hujan semakin deras. Angin dingin menyelinap melalui celah pintu kafe, membawa hawa yang menusuk tulang.

Malam ini, di Kafe Hitam-Putih, seorang wanita mencoba berdamai dengan kenyataan.

Ia tidak menginginkan jabatan kembali. Ia hanya ingin kebenaran. Ia ingin dunia tahu bahwa ia tidak bersalah. Bahwa kejujuran tidak seharusnya menjadi kutukan.

Di hadapan wartawan itu, ia mengucapkan harapannya, pelan namun penuh tekad.

“Saya hanya ingin nama saya dibersihkan. Bukan hanya untuk saya, tapi untuk semua yang pernah diperlakukan seperti ini. Jangan sampai kejujuran mati di tangan mereka yang takut akan kebenaran.”

Dan di sudut ruangan itu, di bawah cahaya temaram, sebuah kisah sedang terungkap—kisah tentang kejujuran yang terinjak oleh sistem yang seharusnya melindungi.

Karena bagi AT, kejujuran adalah harga yang terlalu mahal untuk dijual.

Penulis dan editor: Icky

Klik untuk komentar

Berita Terpopuler

Exit mobile version